Archive for August, 2006

hanya kamu dihati

Wednesday, August 16th, 2006

from shankly to rafa we’ve followed our team

rome to istanbul we’ve all lived the dream

our journey is long, our goal stays the same

to keep for our children, the famous red name

wherever we are,wherever we stay

be sure the kopites will seize the day

for this is our destiny, our passion and pride

Liverpool football club; the worlds greatest side

aku dan ibuku (versi bahasa indonesia)

Wednesday, August 9th, 2006

kemarin malam gigi ibuku kambuh, gigi yang dulu sempat ditambal sekarang sudah idak kuat lagi sehingga saatnya untuk memperbaiki kembali. ibuku lebih memilih cara ini karena beliau takut kalau giginya dicabut. akhirnya kembali aku disuruh mengantarkan ke dokter gigi. aku mengantarkannya ke tempat dokter favorit ibuku, bukan karena murahnya (tetapi memnag murah untuk ukuran dokter gigi) tetapi karena pelayanannya enak, dokternya sabar. aku bergegas berangkat, sepeda motor yamaha’ 75 ku gas habis supaya sampai tujuan dengan cepat. sakit ibuku tidak parah sekali, tidak sampai bengkak. samapai ditempat aku heran dengan bangunannya.

bangunan tempat prakteknya bernuansa renaissance alias menakutkan sekali, ciri khas bangunan jaman belanda dulu. pilar untuk menyangganya besar2,sebesar tales bogor. sarang laba2 menghiasi bangunan yang dulunya tempat pegawai gementee ( kotamadya) surabaia. disitu sudah antri pasien2 yang ingin bertemu dengan dokter. ibuku dapat no antrian 9, lumayan!!.

jika lihat yang datang berasal dari kebanyakan golongan menengah ke bawah. jadi disitu tidak ada (mungkin) urusan me’magar’i gigi, yang harganya mahal tak terhingga. daripada me’magar’i gigi, mending memagari rumah. semua pada mengeluh sakit gigi!( ya tentu saja ini khan dokter gigi, masak ada yang mengeluh sakit di kakinya, mungkin ada juga ( kalo kakinya digigit sama anjing….tertinggal di kakinya=)). pasiennya untuk segala umur, dari anak SD yang giginya habis semua (karena kebanyakan makan coklat) sampai nenek2. ada yang ditempel koyo dipipi dimana giignya sakit, ada yang senyum2 menahan sakit (sakit sekali mungkin…), ada yang menangis tersedu2. hari itu aku puas melihat ekspresi mereka, untungnya ibuku tidak segitunya.

tiba2 ada sepasang pasien datang. sepasang suami istri, laki perempuan dengan anak mereka, laki2 kira2 5 tahunan. mereka naik sepeda kumbang, kebo. jika melihat2 penampilan mereka sepertinya mereka berasal dari suku asli daerahku. gimana ga mikir kesan, yang laki2 berdandan klasik habis. memakai peci hitam, kumis hampi2 menutupi mulut. yang perempuan ga mau kalah klasik seperti sang suami. memakai kerudung warna hijau. bedaknya menor habis ( mungkin untuk menutupi pipinya yang bengkak gara2 sakit gigi), lipstiknya merah delima.wah…terlihat manis habis dech…(kata suaminya..=)). anaknya yang umur 5 tahun ikut juga mengantarkan orang tuanya. setelah memarkir sepeda ditempat parkir, masuklah mereka. dari kejauhan wajah yang perempuan sudah terlihat BT, aku kira (mungkin) karena giginya sakit sekali. bukinya sampai bengkak besar. mereka dapat no antrian ke 10, setelah ibuku. sewaktu duduk di antrian, yang perempuan memasang senyum ke arah sesama pengantri. tetapi aku kira senyumnya terpaksa, sebetulnya dia menahan rasa sakit yang berlebihan. aku duduk disebelah suaminya. "pak..pak…ibu lolo opo sih? ("pak..pak ibu sakit apa sih?"). tanya anaknya. Bapaknya menjawab, " ibumu iku loro untu, nak!" (ibumu itu sakit gigi nak!"). " oh, sakit gigi ya !", sang anak coba memahami sang bapak. sekarang sang anak coba meng"ganggu" ibunya. sampai2 masuk ke dalam rok ibunya. ibunya sabar, sambil menarikanaknya keluar. "wis ngono nulin!"( "sudah maen sana!"), kata ibunya. sang bapak langsung tanggap, ”ayo…ayo..nak..kene metu nang njobo yo, jarno ibukmu nangkene.awak’e dewe ngolek angin nang njobo yo!”( "ayo..ayo…nak…sini keluar saja ya, biar ibumu disini. kita keluar cari angin diluar ya!"). ("nyo wis ngono…nyepet)(ya sudah sana..cepat")…maksud ibunya.

akhirnya anak dan bapaknya keluar. tidak berapa lama anaknya kembali lagi, sekarang langsung lompat ke pangkuan ibunya, untungnya sang ibu punya refleks cepat. anaknya hinggap didekapan ibu dan tidak menyentuh pipi yang bengkak itu..untung..setelah itu ibunya bicara ” nak onjok nakal2, ibu saiki lono” maksudnya(nak jangan nakal2, sekarang ibu sakit….)dasar anaknya termasuk golongan hiperaktif, gerak terus…sekarang memainkan pipi ibunya.“ibuku cayang…ibuku ayu…”( "ibuku sayang…ibuku cantik…") sambil menepuk2 pipi ibunya yang sakit . tetapi ini tidak keras , hanya pelan2. ibunya tidak mengeluarkan ekspresi sama sekali, ini mungkin yang akan membuat anaknya melakukan hal yang dilakukannya nanti.mungkin karena capek tidak diperhatikan ibunya, akhirnya si anak menepuk2 pip ibunya agak sedikit kencang dari sebelumnya. mungkin yang sekarang ditepuk ini bagian yang sakit dari giginya. pecahlah keramaian antri dengan…….Adoohhhh…aduhhh….untuku…,(aduh…aduh…gigiku….)..akhirnya ibunya menjewer kenakalan anaknya sampai puas.

dan akhirnya keduanya menangis berdua, si ibu menangis menahan gigi yang sakit sedangkan anaknya menangis karena habis mendapatkan "hukuman" dari ibunya.“ono opo…ono opo iki!!!”( "ada apa..ada apa ini!!!), suara sang bapak masuk ke ruang antri, datang menghampiri

aku dan ibuku (versi bahasa indonesia)

Wednesday, August 9th, 2006

kemarin malam gigi ibuku kambuh, gigi yang dulu sempat ditambal sekarang sudah idak kuat lagi sehingga saatnya untuk memperbaiki kembali. ibuku lebih memilih cara ini karena beliau takut kalau giginya dicabut. akhirnya kembali aku disuruh mengantarkan ke dokter gigi. aku mengantarkannya ke tempat dokter favorit ibuku, bukan karena murahnya (tetapi memnag murah untuk ukuran dokter gigi) tetapi karena pelayanannya enak, dokternya sabar. aku bergegas berangkat, sepeda motor yamaha’ 75 ku gas habis supaya sampai tujuan dengan cepat. sakit ibuku tidak parah sekali, tidak sampai bengkak. samapai ditempat aku heran dengan bangunannya.

bangunan tempat prakteknya bernuansa renaissance alias menakutkan sekali, ciri khas bangunan jaman belanda dulu. pilar untuk menyangganya besar2,sebesar tales bogor. sarang laba2 menghiasi bangunan yang dulunya tempat pegawai gementee ( kotamadya) surabaia. disitu sudah antri pasien2 yang ingin bertemu dengan dokter. ibuku dapat no antrian 9, lumayan!!.

jika lihat yang datang berasal dari kebanyakan golongan menengah ke bawah. jadi disitu tidak ada (mungkin) urusan me’magar’i gigi, yang harganya mahal tak terhingga. daripada me’magar’i gigi, mending memagari rumah. semua pada mengeluh sakit gigi!( ya tentu saja ini khan dokter gigi, masak ada yang mengeluh sakit di kakinya, mungkin ada juga ( kalo kakinya digigit sama anjing….tertinggal di kakinya=)). pasiennya untuk segala umur, dari anak SD yang giginya habis semua (karena kebanyakan makan coklat) sampai nenek2. ada yang ditempel koyo dipipi dimana giignya sakit, ada yang senyum2 menahan sakit (sakit sekali mungkin…), ada yang menangis tersedu2. hari itu aku puas melihat ekspresi mereka, untungnya ibuku tidak segitunya.

tiba2 ada sepasang pasien datang. sepasang suami istri, laki perempuan dengan anak mereka, laki2 kira2 5 tahunan. mereka naik sepeda kumbang, kebo. jika melihat2 penampilan mereka sepertinya mereka berasal dari suku asli daerahku. gimana ga mikir kesan, yang laki2 berdandan klasik habis. memakai peci hitam, kumis hampi2 menutupi mulut. yang perempuan ga mau kalah klasik seperti sang suami. memakai kerudung warna hijau. bedaknya menor habis ( mungkin untuk menutupi pipinya yang bengkak gara2 sakit gigi), lipstiknya merah delima.wah…terlihat manis habis dech…(kata suaminya..=)). anaknya yang umur 5 tahun ikut juga mengantarkan orang tuanya. setelah memarkir sepeda ditempat parkir, masuklah mereka. dari kejauhan wajah yang perempuan sudah terlihat BT, aku kira (mungkin) karena giginya sakit sekali. bukinya sampai bengkak besar. mereka dapat no antrian ke 10, setelah ibuku. sewaktu duduk di antrian, yang perempuan memasang senyum ke arah sesama pengantri. tetapi aku kira senyumnya terpaksa, sebetulnya dia menahan rasa sakit yang berlebihan. aku duduk disebelah suaminya. "pak..pak…ibu lolo opo sih? ("pak..pak ibu sakit apa sih?"). tanya anaknya. Bapaknya menjawab, " ibumu iku loro untu, nak!" (ibumu itu sakit gigi nak!"). " oh, sakit gigi ya !", sang anak coba memahami sang bapak. sekarang sang anak coba meng"ganggu" ibunya. sampai2 masuk ke dalam rok ibunya. ibunya sabar, sambil menarikanaknya keluar. "wis ngono nulin!"( "sudah maen sana!"), kata ibunya. sang bapak langsung tanggap, ”ayo…ayo..nak..kene metu nang njobo yo, jarno ibukmu nangkene.awak’e dewe ngolek angin nang njobo yo!”( "ayo..ayo…nak…sini keluar saja ya, biar ibumu disini. kita keluar cari angin diluar ya!"). ("nyo wis ngono…nyepet)(ya sudah sana..cepat")…maksud ibunya.

akhirnya anak dan bapaknya keluar. tidak berapa lama anaknya kembali lagi, sekarang langsung lompat ke pangkuan ibunya, untungnya sang ibu punya refleks cepat. anaknya hinggap didekapan ibu dan tidak menyentuh pipi yang bengkak itu..untung..setelah itu ibunya bicara ” nak onjok nakal2, ibu saiki lono” maksudnya(nak jangan nakal2, sekarang ibu sakit….)dasar anaknya termasuk golongan hiperaktif, gerak terus…sekarang memainkan pipi ibunya.“ibuku cayang…ibuku ayu…”( "ibuku sayang…ibuku cantik…") sambil menepuk2 pipi ibunya yang sakit . tetapi ini tidak keras , hanya pelan2. ibunya tidak mengeluarkan ekspresi sama sekali, ini mungkin yang akan membuat anaknya melakukan hal yang dilakukannya nanti.mungkin karena capek tidak diperhatikan ibunya, akhirnya si anak menepuk2 pip ibunya agak sedikit kencang dari sebelumnya. mungkin yang sekarang ditepuk ini bagian yang sakit dari giginya. pecahlah keramaian antri dengan…….Adoohhhh…aduhhh….untuku…,(aduh…aduh…gigiku….)..akhirnya ibunya menjewer kenakalan anaknya sampai puas.

dan akhirnya keduanya menangis berdua, si ibu menangis menahan gigi yang sakit sedangkan anaknya menangis karena habis mendapatkan "hukuman" dari ibunya.“ono opo…ono opo iki!!!”( "ada apa..ada apa ini!!!), suara sang bapak masuk ke ruang antri, datang menghampiri

aku dan ibuku (versi bahasa jawa)

Saturday, August 5th, 2006

Wingi bengi ibuku untune
loro(sakit), untune sing ditambah mbiyen wis aus tambalane dadi wis
wayahe nambal maneh. Ibuku milih cara iki mergo, beliau wedi untune
dicabut. Akhire aku maneh dikongkon ngeterno nang dokter gigi. Aku
karo ibuku budhal nang dokter gigi kesenengane ibuku, duduk mergo
murahe( tapi pancen murah gawe ukuran dokter gigi) tapi pelayanane
enak,doktere sabar. Aku ngoncok ae, sepeda motor yamaha ’75 tak
geber habis supoyo sampek nang tujuan dengan cepat. Lorone ibuku gak
parah banget, gak sampek aboh. Sampek kono, aku heran karo bangunane.

Bangunan ngone de’e
praktek iku bernuasa renaissance alias medeni pol ciri khas bangunan
jaman londo mbiyen. Pilar sing ngawe nyonggo gede2  sak tales bogor.
Sawang2 menghiasi bangunan sing jarene sih mbiyen ngonane pegawai
gemente surabaia. Nang kono wis antri pasien2 sing pengen  ketemu
karo dokter. Ibuku enthuk no antrian 9, lumayan!!.

Lek ndelok potongane
wong2e berasal teko golongan menengah kebawah. Dadi nang kono gak
ono(mungkin)urusan mageri untu, sing larange gak karu2an. Timbang
mageri  untu, mending mageri omah. Kabeh podho mnegeluh loro untune!(
yo  terang  iki khan dokter untu, mosok ono sing mengeluh karo
sikile, ono be’e  lek  sikile dicakot karo untune asu. Nyanthol
nang sikil..=)). Pasiene
untuk  segala mulai arek
sd sing untune bogang kabeh sampek mbah2 tuwek. Ono sing ngawe koyo
sing ditempel nang untune, ono sing mringis2  dewe(keloroen be’e),
ono sing nagis geru2. wis aku ndelok iku sampek  puas ndelok ekspresi
mereka, untunge ibuku gak ngono pisan.

Moro2 ono  sepasang
pasien teko. Sepasang bebojoan, lanang wedhok karo anake siji sik
cilik kiro2 5 taunan. Mereka numpak sepeda onthel, kebo. Lek ndelok2
sih mereka iki koyokane suku aslli daerahku. Yo opo gak mikir mrono,
sing lanang klasik abis. Ngawe kopiah ireng, brengos meh2 nutupi lambe. Sing wedhok gak
kalah klasik pisan, nganggo kerudung werno ijo. Bedhak’e
melok2(mungkin nutupi pipine sing aboh mergo untune loro), lipstike
merah delima. Wis kethok manies deh( jarene bojone). Anake sing umur
5 taun mau melok pisan ngeterno wong tuane. Mari ndeleh sepeda nang
enggon  parkir, mlebulah mereka. Teko adohan raine sing wedhok wis
kethok BT, aku kiro mergo untune loro pol. Buktine sampek mbendhol
gede. Mereka nomer 10, sakwise ibuku. Pas mlebu lungguh nang antrian,
sing wedhok  pasang senyum karo wong2 sing wis antri nang kono. Tapi
aku  ngiro  senyume iku kepekso, sakjane ngempet lorone untu. Aku
lungguh nang  sebelahe sing lanang. “ pak…pak..ibu lolo opo
sih?”, takok’e anak.  Bapake njawab,” ibumu iku loro
untu,nak!”. “oh, lolo untu ta!”, anak’e  nyoba ngerteni
bapak’e. saiki anak’e nglibet nang ibuke. Sampek mlebu2  nang
rok’e, ibu’e. ibu’e sabar, karo narik anak’e metu. “wis
ngono nulin!”, jarene ibu (maksud’e wis kono dulin). Bapak’e
langsung tanggap,”ayo…ayo..nak..kene metu nang njobo yo, jarno
ibukmu nangkene.  awak’e dewe ngolek angin nang njobo yo!”. “nyo
wis ngono..nyepet”  maksude ibu’e yo wis kono cepet. 

Akhire anak karo bapak
metu nang njobo. Durung suwi anak’e mbalik maneh saiki langsung
mencolot nang pangkuane ibu’e, untung ibu’e nduwe refleks sing
cepet. anak’e kecekel de’e tapi gak nyenggol pipine sing aboh.
Wis  ngono, ibu’e ngomong” nak onjok nakal2, ibu saiki lono”
maksude nak ojo nakal2, ibu loro. Dasar anake koyokane mlebu nang
golongan hiperaktif, umek maneh saiki dulinan pipine ibu’e. “ibuku
cayang…ibuku ayu…”eleme anak’e karo nepuk2 pipine ibuke sing
loro tapi iki gak banter alon2. ibu’e gak ekspresi blas, mungkin
iki sing ngarai engko anake berbuat. Mungkin mergo kesel gak
diperhatikno karo ibu’e saiki ana’e nepuk pipine  ibu’e luwih
banter timbang sakdurunge. Mungkin pas karo sing enggone loro,
pecahlah keramaian antri dengan ….Adoohhhh…aduhhh….untuku…,
sak konyong2 anake dicethothi karo ibuke. Akhire nangislah mereka
berdua, sing ibu’e nangis nahan untune sing loro…sing anak nangis
mergo dijewer ibuke. “ono opo…ono opo iki!!!”, suoro sing
lanang mlebu nang ruang antri  mlayu ngampiri.

Senjoemmoe manis..

Thursday, August 3rd, 2006

akhirnya sampailah aku di persimpangan, lampu lalu lintas menyala merah menghentikanku.mataku yang lihai ini tersudut pada satu arah pandang. kita bertemu lagi disini, di tempat ini lagi.memang tidak lama jika kita bertemu, hanya beberapa menit itupun karena satu sebab yaitu lampu lalu lintas..ya lampu lalu lintas…lampu lalu lintas yang selalu ditunggu, lampu lalu lintas yang selalu buat kesal, lampu lalu lintas mempertemukan kita.
kembali dirimu duduk disingasana yang hanya terbuat dari karton bekas kardus air mineral..tidak kursi empuk atau sofa air.matahari pagi sudah bersinarlama, kira2 jam 8.35,dia mulai memanaskan suhu tubuh kita. jika melihat warna kulitmu itu pastinya matahari sangat bersahabat denganmu, setia dari terbit sampai terbenam.diantara asap knalpot,bisingnya klakson kendaraan, debu jalanan kita bertemu.akhirnya kamu tersenyum, senyum yang kutunggu dari tadi.senyum yang bangkitkan gelora kemanusiaan.tanganmu menggapai selembar uang ribuan yang sempat terbang setelah dijulurkan dari pengendara motor sambil berlalu.saatnya giliranku untuk hampiri, kupaksa motorku mendekati.kembali dirimu senyum, dalam hati ingin kusampaikan selamat pagi cantik..senang jumpa denganmu pagi ini..sayang setelah itu perjumpaan kita terganggu, kita tidak boleh lama2, saatnya telah tiba..lampu lalu lintas hijau menyuruhku bergerak…duluan cantik, besok lagi kita bertemu ya, jangan lupa seperti biasa..jangan lupa makan! nanti sakit!

Kok Mekso…..

Wednesday, August 2nd, 2006

wingi aku diajak bisnis karo wong..jarene bisnis iki menjanjikan, dengan sedikit usaha akan mendapatkan hasil semaksimal..wah wong iki jaman sekolah SMA ne mbiyen jago pelajaran EKOP (ekonomi koperasi), mungkin entuk biji 10 buat mata pelajaran itu. de’e cuap2 memborbardir aku dengan pernyataan2 yang membangkitkan semangat ekonomi, sepanjang de’e ngomong selalu ngomong keuntungan ae gak ono iku rugi dalam setiap pernyataane..oleh hadiah BMW seri anyar..pesawat capung( aku ngene iki eleng koncoku jali…hehehe)…kapal pesiar….wong paling cilik hadiahe ae duit..endi wong gak ngiler..aku pikir iki bisnis keren, bisnis sengertiku iku barang sing angel njelasno cuma arek2 ekonomi, manajemen sing ngerti artine.tapi saiki akeh sing nganggep setiap usaha ekonomi ngomonge bisnis. wong dodolan sayur nang omahku iso tak arani berbisnis lek ngono=).mbalek maneh nang sang "pebisnis" iki, nawari macem2 products..teko sabun sampek pampers..hehehe….
suwi2 aku bosen pisan nrungokno de’e dan aku wis bosen pisan cerito iki…wis yo aku mari dhisik….bisnis iku MLM…

Toean Gandhi berbitjara, roengokno ta..

Tuesday, August 1st, 2006

I believe in the fundamental Truth of all great religions of the world. I believe they are all God given and I believe they were necessary for the people to whom these religions were revealed. And I believe that if only we could all of us read the scriptures of the different faiths from the standpoint of the followers of these faiths, we should find that they were at the bottom all one and were all helpful to one another.
- M K Gandhi -

Matahari telat bersinar

Tuesday, August 1st, 2006

ini hari saja merasa terkedjoet, bangoen pagi jang seharoesnja seperti biasa ternyata molor sampai saja terbangoen di poekoel 8.13 WIB itoe artinja saja telat berangkat kerdja…Asoe dech…