kemarin malam gigi ibuku kambuh, gigi yang dulu sempat ditambal sekarang sudah idak kuat lagi sehingga saatnya untuk memperbaiki kembali. ibuku lebih memilih cara ini karena beliau takut kalau giginya dicabut. akhirnya kembali aku disuruh mengantarkan ke dokter gigi. aku mengantarkannya ke tempat dokter favorit ibuku, bukan karena murahnya (tetapi memnag murah untuk ukuran dokter gigi) tetapi karena pelayanannya enak, dokternya sabar. aku bergegas berangkat, sepeda motor yamaha’ 75 ku gas habis supaya sampai tujuan dengan cepat. sakit ibuku tidak parah sekali, tidak sampai bengkak. samapai ditempat aku heran dengan bangunannya.
bangunan tempat prakteknya bernuansa renaissance alias menakutkan sekali, ciri khas bangunan jaman belanda dulu. pilar untuk menyangganya besar2,sebesar tales bogor. sarang laba2 menghiasi bangunan yang dulunya tempat pegawai gementee ( kotamadya) surabaia. disitu sudah antri pasien2 yang ingin bertemu dengan dokter. ibuku dapat no antrian 9, lumayan!!.
jika lihat yang datang berasal dari kebanyakan golongan menengah ke bawah. jadi disitu tidak ada (mungkin) urusan me’magar’i gigi, yang harganya mahal tak terhingga. daripada me’magar’i gigi, mending memagari rumah. semua pada mengeluh sakit gigi!( ya tentu saja ini khan dokter gigi, masak ada yang mengeluh sakit di kakinya, mungkin ada juga ( kalo kakinya digigit sama anjing….tertinggal di kakinya=)). pasiennya untuk segala umur, dari anak SD yang giginya habis semua (karena kebanyakan makan coklat) sampai nenek2. ada yang ditempel koyo dipipi dimana giignya sakit, ada yang senyum2 menahan sakit (sakit sekali mungkin…), ada yang menangis tersedu2. hari itu aku puas melihat ekspresi mereka, untungnya ibuku tidak segitunya.
tiba2 ada sepasang pasien datang. sepasang suami istri, laki perempuan dengan anak mereka, laki2 kira2 5 tahunan. mereka naik sepeda kumbang, kebo. jika melihat2 penampilan mereka sepertinya mereka berasal dari suku asli daerahku. gimana ga mikir kesan, yang laki2 berdandan klasik habis. memakai peci hitam, kumis hampi2 menutupi mulut. yang perempuan ga mau kalah klasik seperti sang suami. memakai kerudung warna hijau. bedaknya menor habis ( mungkin untuk menutupi pipinya yang bengkak gara2 sakit gigi), lipstiknya merah delima.wah…terlihat manis habis dech…(kata suaminya..=)). anaknya yang umur 5 tahun ikut juga mengantarkan orang tuanya. setelah memarkir sepeda ditempat parkir, masuklah mereka. dari kejauhan wajah yang perempuan sudah terlihat BT, aku kira (mungkin) karena giginya sakit sekali. bukinya sampai bengkak besar. mereka dapat no antrian ke 10, setelah ibuku. sewaktu duduk di antrian, yang perempuan memasang senyum ke arah sesama pengantri. tetapi aku kira senyumnya terpaksa, sebetulnya dia menahan rasa sakit yang berlebihan. aku duduk disebelah suaminya. "pak..pak…ibu lolo opo sih? ("pak..pak ibu sakit apa sih?"). tanya anaknya. Bapaknya menjawab, " ibumu iku loro untu, nak!" (ibumu itu sakit gigi nak!"). " oh, sakit gigi ya !", sang anak coba memahami sang bapak. sekarang sang anak coba meng"ganggu" ibunya. sampai2 masuk ke dalam rok ibunya. ibunya sabar, sambil menarikanaknya keluar. "wis ngono nulin!"( "sudah maen sana!"), kata ibunya. sang bapak langsung tanggap, ”ayo…ayo..nak..kene metu nang njobo yo, jarno ibukmu nangkene.awak’e dewe ngolek angin nang njobo yo!”( "ayo..ayo…nak…sini keluar saja ya, biar ibumu disini. kita keluar cari angin diluar ya!"). ("nyo wis ngono…nyepet)(ya sudah sana..cepat")…maksud ibunya.
akhirnya anak dan bapaknya keluar. tidak berapa lama anaknya kembali lagi, sekarang langsung lompat ke pangkuan ibunya, untungnya sang ibu punya refleks cepat. anaknya hinggap didekapan ibu dan tidak menyentuh pipi yang bengkak itu..untung..setelah itu ibunya bicara ” nak onjok nakal2, ibu saiki lono” maksudnya(nak jangan nakal2, sekarang ibu sakit….)dasar anaknya termasuk golongan hiperaktif, gerak terus…sekarang memainkan pipi ibunya.“ibuku cayang…ibuku ayu…”( "ibuku sayang…ibuku cantik…") sambil menepuk2 pipi ibunya yang sakit . tetapi ini tidak keras , hanya pelan2. ibunya tidak mengeluarkan ekspresi sama sekali, ini mungkin yang akan membuat anaknya melakukan hal yang dilakukannya nanti.mungkin karena capek tidak diperhatikan ibunya, akhirnya si anak menepuk2 pip ibunya agak sedikit kencang dari sebelumnya. mungkin yang sekarang ditepuk ini bagian yang sakit dari giginya. pecahlah keramaian antri dengan…….Adoohhhh…aduhhh….untuku…,(aduh…aduh…gigiku….)..akhirnya ibunya menjewer kenakalan anaknya sampai puas.
dan akhirnya keduanya menangis berdua, si ibu menangis menahan gigi yang sakit sedangkan anaknya menangis karena habis mendapatkan "hukuman" dari ibunya.“ono opo…ono opo iki!!!”( "ada apa..ada apa ini!!!), suara sang bapak masuk ke ruang antri, datang menghampiri