Archive for September, 2006

De kock Jancok!!!

Tuesday, September 19th, 2006

Diponegoro adalah putra sulung Hamengkubuwana III, seorang raja Mataram di Yogyakarta. Ibu Diponegoro adalah R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri nonpermaisuri) yang berasal dari Pacitan. Pangeran Diponegoro bernama asli Raden Mas Ontowiryo.

Diponegoro menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengku Buwono III untuk mengangkatnya menjadi raja. Beliau menolak mengingat ibunya bukanlah permaisuri.

Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo daripada di keraton. Pemberontakannya terhadap keraton dimulai sejak kepemimpinan Hamengkubuwana V (1822) dimana Diponegoro menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun, sedangkan pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danurejo bersama Residen Belanda. Cara perwalian seperti itu tidak disetujui Diponegoro.

Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu, beliau memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.

Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran Pangeran Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah goa yang bernama Goa Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat "perang sabil" yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Goa Selarong.

Selama perang ini kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden.

Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Diponegoro. Bahkan sayembara pun dipergunaan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro. Sampai akhirnya Diponegoro ditangkap pada 1830.

Penangkapan dan pengasingan
16 Februari 1830 Pangeran Diponegoro dan Kolonel Cleerens bertemu di Remo Kamal, Bagelen, Purworejo. Cleerens mengusulkan agar Kanjeng Pangeran dan pengikutnya berdiam dulu di Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal Markus de Kock dari Batavia.
28 Maret 1830 Diponegoro menemui Jenderal De Kock di Magelang. De Kock memaksa mengadakan perundingan dan mendesak Diponegoro agar menghentikan perang. Permintaan itu ditolak Diponegoro. Tetapi Belanda telah menyiapkan penyergapan dengan teliti. Hari itu juga Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang, dan langsung ke Batavia menggunakan kapal Pollux pada 5 April.
11 April 1830 sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis (sekarang gedung Museum Fatahillah). Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van den Bosch.
30 April 1830 keputusan pun keluar. Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Diposono dan istri, serta para pengikut lainnya seperti Mertoleksono, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruno akan dibuang ke Manado.
3 Mei 1830 Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam.
1834 dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan.
8 Januari 1855 Diponegoro wafat dan dimakamkan di kampung Melayu Makassar.

komplain

Tuesday, September 19th, 2006

Dim..servis tv dmn yah? Ko tvku bau kebkr..jd ga nyala,hikhik

Dim,jgn suka miskol2 gitu donk..Bete nie..

Dimas, jangan nulis Married ah, nanti pasaran turun loh……………
Ato Dimas beneran dah Married ??????

Pasar Seni ITB

Monday, September 11th, 2006

disana aku melihatmu

bertebaran penuh pesona

terkadang kau berikan senyuman

terkadang kau lemparkan lambaian

ingin memegang

ingin menggapai

ingin memiliki

di pasar seni itu kita bertemu

lain waktu kau pasti milikku

9 september

Sunday, September 10th, 2006

jersey baru, semangat baru

tapi sayang dikalahkan oleh keberuntungan

hari ini kita tidak mempunyai

beruntung tim lawan

tapi walaupun ini terjadi

kau tetap kebanggaanku

LFC…..You’ll Never Walk Alone

you’ll never walk alone

Thursday, September 7th, 2006

Hukuman untuk Persebaya
Selama setahun menggelar pertandingan kandang di luar wilayah Jawa Timur dan tanpa penonton. Dasar hukum pasal 20 ayat 1 dan 4 jo pasal 28 ayat 2 Pokok-Pokok Peraturan Komisi Disiplin PSSI.

Hukuman untuk Bonek
Pendukung Persebaya (Bonek) dengan pengertian beratribut, memakai logo, atau yang bisa diidentifikasikan sebagai suporter klub bersangkutan diskors tidak boleh menonton pertandingan sepak bola dalam lingkup PSSI atau BLI (Badan Liga Sepak Bola Indonesia) selama tiga tahun. Dasar hukum pasal 50 ayat 1 Kode Disiplin AFC (Konfederasi Sepak Bola Asia).

terima kasih buat komisi disiplin PSSI yang telah menjatuhkan sanksi kepada tim kebanggaan kami, PERSEBAYA SURABAYA. semoga kami belajar dari kesalahan ini dan semakin mengerti bagaimana menjadi suporter yang baik( sopan, tertib, tidak kencing di stadion, tidak lempar2 batu lagi, beli karcis, membuang sampah pada tempatnya, tidak lempar botol air mineral yang didalamnya ada air kencingnya, tidak meneriakkan "WASIT GOBLOG", bersahabat dengan aparat keamanan, dan masih banyak yang lain yang tertera di peraturan AFC+FIFA+PSSI).

kami akan tetap setia, PERSEBAYA. jangan takut dengan lawan-lawanmu, buat permainan yang cantik di lapangan hijau.

PERSEBAYA…KAMI HAUS GOL KAMU!!!

Balada pekerja kelas dua

Tuesday, September 5th, 2006

gaji telat dibayar
dibayar setengah dulu
ATM hilang
Jersey Liverpool FC baru, mahal.
tiada uang
hanya diam
ibu kos tagih uang kos
air kos mati
nikmati saja

bergelantung di garis kemiskinan
kapan ini berakhir?
segera lebih baik
jangan terlalu lama
segera sirna

I Can’t Say Anything

Monday, September 4th, 2006

Aksi-aksi Anarkis Bonek

            2003:
Seorang
Bonekmania mati dalam kerusuhan di Stadion Surajaya Lamongan. Peristiwa
ini terjadi sebelum pertandingan digelar. Dia hendak menyelamatkan diri
dengan melompat truk di jalan raya. Dia terjatuh dan tergilas truk.

19 April 2004:
Bonek
terlibat adu jotos dengan aparat kepolisian di kompleks Stadion Tridadi
Sleman saat Persebaya dijamu PSS Sleman. Sekitar 300 Bonekmania membuat
kerusuhan dan berhasil dipukul mundur petugas. Dua orang Bonek terluka
dan seorang lagi ditangkap kepolisian Polsek Sleman.

Senin, 16 Agustus 2004:
Ribuan
Bonek mengamuk di Gelora 10 Nopember ketika Persebaya tertinggal 0-1
dari Persela. Mereka merusak papan reklame serta tiang gawang. Meski
masih menyisakan waktu sekitar 10 menit, pertandingan kedua tim tidak
dilanjutkan, karena gawang rusak dan lapangan dipenuhi papan reklame.

Kamis, 1 Juni 2006:
Ribuan
Bonek membuat kerusuhan di Stadion Mojosari Mojokerto, sehingga
pertandingan antara PSMP v Persebaya ditunda. Pertandingan dilanjutkan
di Bojonegoro pada 16 Juli 2006 dengan hasil akhir 1-1.

Rabu, 16 Agustus 2006:
Bonekmania
membuat rusuh dalam pertandingan final Divisi I di Stadion Brawijaya
Kediri. Akibat ulah anarkis itu Bonek dijatuhi sanksi Komdis lima kali
tidak boleh menyaksikan langsung laga away Persebaya.

Senin, 4 September 2006:
Bonek
membuat rusuh di Gelora 10 Nopember saat Persebaya menjamu Arema di
babak 8 besar Copa Indonesia 2006. Kerusuhan menimbulkan kerusakan
terparah di Gelora 10 Nopember.

koen bangga lek ngene iki

Monday, September 4th, 2006

Tiga Mobil Dibakar, 13 Polisi Luka Ringan, Satu Luka Berat
SURABAYA
- Aduh, aduh, suporter Persebaya kembali bertindak anarkis. Tak puas
melihat berlangsungnya pertandingan melawan Arema Malang dalam babak
Delapan Besar Copa Dji Sam Soe di Gelora 10 Nopember Surabaya kemarin,
para pendukung yang dikenal dengan sebutan "bonek" itu pun berulah
ngawur.

Bukan hanya terjun ke lapangan dan mengakibatkan
dihentikannya pertandingan pada menit ke-86, bonek juga menimbulkan
kerusuhan serta kerusakan berat di mana-mana.

Seberapa parah?
Bayangkan, tiga mobil dibakar hebat, belasan lainnya rusak-rusak.
Termasuk, truk polisi dan ambulans milik RSUD dr Soetomo. Kaca-kaca
stadion serta sejumlah bangunan di sekitar stadion rusak. Perusakan
tersebut terus dilakukan sepanjang rute kepulangan bonek dari kawasan
stadion hingga Jl Ngagel Jaya Selatan.

Para suporter Persebaya
sebenarnya sudah "panas" sejak tengah-tengah pertandingan. Pada laga
kedua babak Delapan Besar tersebut, Persebaya memang harus menang 2-0,
kalau masih ingin lolos ke babak selanjutnya. Pada laga pertama di
Malang, 1 September lalu, mereka kalah 0-1.

Para suporter yang
mencapai 23.000 orang (versi panitia pelaksana pertandingan) itu tak
puas melihat berlangsungnya pertandingan. Hingga mendekati akhir
pertandingan, Bejo Sugiantoro dkk tak mampu menjebol gawang Arema.

Puncaknya
terjadi pada menit ke-86 itu. Kiper Arema, Ahmad Kurniawan, terjatuh
kena lemparan batu penonton. Pertandingan sempat dihentikan lama.
Ketika dia berdiri, tiba-tiba para penonton dari tribun timur
berbondong-bondong memasuki lapangan. Situasi makin tak terkendali saat
suporter dari tribun lain ikut memasuki lapangan.

Para pemain
pun berlari mengamankan diri dan kerusuhan berlanjut antara suporter
melawan ratusan aparat (sekitar 700 petugas). Para suporter meneruskan
dengan perusakan serta pembakaran. Puluhan titik kebakaran terlihat di
dalam stadion kebanggaan Surabaya tersebut.

Hanya, karena
konsentrasi pengamanan terpusat di dalam stadion, tak disangka, yang
terjadi di luar jauh lebih parah. Sekitar pukul 17.30, perusakan dan
pembakaran dimulai di luar stadion.

Ironisnya, sasaran pertama
adalah mobil aparat. Tepatnya sebuah mobil dinas Koarmatim (Komando
Armada RI Kawasan Timur). Ketika itu, mobil KKM (Kepala Kamar Mesin)
KRI Pulau Rupat tersebut dikendarai Pratu Wisnu Sri Wardhana.

"Saat
itu, Wisnu hendak pulang ke rumahnya di kawasan Pucang Sewu," jelas
Kadisprov Armatim Mayor Bambang S. Irianto ketika dikonfirmasi Jawa Pos
tadi malam.

Namun, saat melintas di depan Stadion Gelora 10
Nopember, mobilnya terjebak kemacetan. Wisnu tampak shock atas kejadian
itu. "Tiba-tiba saya mendengar suara praakkk… Waktu saya lihat, kaca
belakang mobil sudah pecah," ungkapnya.

Setelah memecah kaca
belakang, massa lantas menggoyang-goyang mobil dinas TNI-AL tersebut
untuk digulingkan. Melihat gelagat yang tidak baik, Wisnu langsung
melompat ke luar dan menyelamatkan diri. Selanjutnya, massa yang tak
terkendali itu pun langsung menggulingkan serta membakar mobil tersebut.

Keberingasan
massa juga tertuju ke mobil operasional antv yang kemarin menyiarkan
langsung pertandingan tersebut. Suzuki APV bernopol B 8743 KR milik
antv langsung dibakar hebat, begitu massa melemparkan rokok dan korek
api yang menyala ke dalam tangki bensinnya. Kaca depan Toyota Dyna
milik antv juga pecah.

Kerugian lebih berat dialami Telkom
Surabaya Timur yang digandeng antv sebagai mitra kerja siaran langsung
pertandingan. Tercatat, dua mobil pemancar milik Divisi Long Distance
Representative Office Telkom hancur lebur dirusak massa.

Kerusakan
Daihatsu Hi-line bernopol L 1225 JB milik Telkom tersebut mirip mobil
operasional antv yang letaknya memang berdekatan. "Disulut tangki
bensinnya," kata Agus Juliansyah, teknisi bagian satelit Telkom
Surabaya Timur.

Namun, yang paling diprihatinkan Telkom
Surabaya Timur adalah kerusakan yang menimpa Nissan Diesel L 7612 Y,
mobil operasional yang lain. Maklum, selain rusak berat, banyak
peralatan teknis yang dicuri. "Salah satunya adalah spectrum analyzer.
Nilainya Rp 300 juta. Siapa yang mau mengganti kerugiannya?" ungkap
Agus seraya menggaruk-garuk kepala.

Begitu dahsyatnya ulah
anarkis bonek, tercatat 14 polisi luka-luka dan puluhan topi polisi
yang diletakkan di truk Dalmas dicuri. Anggota yang mengalami cedera
paling parah adalah Bripda Kukuh. Kepalanya bocor dan kakinya terkena
hantaman batu-batu. Begitu parahnya, dia harus dilarikan ke RSUD dr
Soetomo untuk mendapatkan pertolongan. Sebanyak 25 panitia pelaksana
pertandingan juga dilaporkan mengalami luka-luka akibat ulah bonek.

Di sepanjang perjalanan pulang, para bonek itu juga merusak dan
melempari kendaraan. Aksi perusakan itu terjadi di Jl Dharmawangsa, Jl
Ngagel Jaya Selatan, dan Jl Biliton.

Lia (tidak mau disebut nama
lengkapnya), seorang ibu yang rumahnya tepat berada di depan stadion,
merupakan salah satu korban perusakan. "Apa yang dilakukan ini
kriminal. Lebih baik tidak ada pertandingan sepak bola di Surabaya,"
pintanya saat menghubungi kantor Jawa Pos tadi malam.

Dengan
perilaku bonek yang lebih dari mengkhawatirkan itu, apa yang akan
terjadi kemudian? Mungkin penggemar sepak bola di Surabaya harus siap
menghadapi yang terburuk. Sebab, bonek sebenarnya masih dalam masa
skorsing PSSI. Mereka tidak boleh mengikuti enam laga away Persebaya
akibat kerusuhan saat final Divisi I di Stadion Brawijaya, Kediri, 16
Agustus lalu.

Dari PSSI, ada ancaman sanksi, bonek tidak boleh
menyaksikan pertandingan home (di kandang sendiri) selama satu musim.
Komisi Disiplin PSSI akan mengagendakan kasus itu pada sidang Kamis, 7
September nanti.

Reaksi keras juga muncul dari pihak aparat. Ada
kemungkinan Persebaya bakal tidak bisa main di kandang sendiri karena
polisi tidak akan mengizinkan keramaiannya.

"Kami akan mengkaji
ulang izin penyelenggaraan pertandingan sepak bola di Surabaya. Kalau
begini caranya (selalu rusuh setiap ada pertandingan), lebih baik tidak
ada pertandingan sepak bola di Surabaya. Siapa yang bisa menjamin
keamanannya?" ujar seorang pejabat di Polwiltabes Surabaya.

Perwira
tersebut menambahkan, pihaknya juga akan merekomendasikan ke PSSI
supaya tidak ada pertandingan sepak bola di Surabaya. "Buat apa, kalau
yang ada hanya rusuh dan bakar-bakaran?" tegasnya.

Kapolwiltabes Surabaya Kombes Pol Anang Iskandar membenarkan itu.
"Memang benar kami akan mempertimbangkan secara seksama izin
penyelenggaraan sepak bola di Surabaya. Kalau memang dari segi keamanan
tidak kondusif, tentu kami akan melarangnya," ujarnya.

Sementara
ini, enam bonek telah diamankan dan tadi malam diperiksa intensif di
Polwiltabes Surabaya. Mereka adalah Suroyo, 24, warga Sidotopo;
Mulyadi, 18, arek Dupak Masigit; Riki Maulana, 16, beralamat di
Sukolilo; Ediyanto, 20, pemuda asal Buduran; Riyanto, 18, dari
Sepanjang; dan Irwan Kusanto, 15, bocah asal Bubutan.

"Mereka
akan diperiksa intensif dan dijerat dengan pasal 170 KUHP tentang
perusakan bersama-sama," ujar Anang Iskandar, yang kemarin datang ke
lokasi dengan ojek, gara-gara jalan begitu macet imbas dari kerusuhan.
(git/phd/ano)

payah…

Monday, September 4th, 2006

PERSEBAYA - AREMA (0-0)
agregate (0-1)

tenang di surabaya kita bayar lunas

Friday, September 1st, 2006

habis melihat pertandingan copa indonesia antara persebaya versus arema, berakhir 1-0 untuk tuan rumah. gol menit ke-3(emanuel serge)…permainan persebaya jauh dari kesan bagus, mirip permainan liga tarkam…apalagi kiper persebaya, ngadiono main seperti perempuan , pakai kalung , tangkap bola seperti menangkap kupu-kupu di film india…payah…ngadiono2 macul ae awakmu iku…
tetapi harapan masih ada karena leg kedua di kandang tambaksari…hehehe…siap2 ae arema…kuthuk koen engko….siap2 tambaksari TERBAKAR hijau….dan kemenangan di depan mata kami…hehehe….selamat datang di TAMBAKSARI, siapkan mental terbaik kalian….hehehe….