Tiga Mobil Dibakar, 13 Polisi Luka Ringan, Satu Luka Berat
SURABAYA
- Aduh, aduh, suporter Persebaya kembali bertindak anarkis. Tak puas
melihat berlangsungnya pertandingan melawan Arema Malang dalam babak
Delapan Besar Copa Dji Sam Soe di Gelora 10 Nopember Surabaya kemarin,
para pendukung yang dikenal dengan sebutan "bonek" itu pun berulah
ngawur.
Bukan hanya terjun ke lapangan dan mengakibatkan
dihentikannya pertandingan pada menit ke-86, bonek juga menimbulkan
kerusuhan serta kerusakan berat di mana-mana.
Seberapa parah?
Bayangkan, tiga mobil dibakar hebat, belasan lainnya rusak-rusak.
Termasuk, truk polisi dan ambulans milik RSUD dr Soetomo. Kaca-kaca
stadion serta sejumlah bangunan di sekitar stadion rusak. Perusakan
tersebut terus dilakukan sepanjang rute kepulangan bonek dari kawasan
stadion hingga Jl Ngagel Jaya Selatan.
Para suporter Persebaya
sebenarnya sudah "panas" sejak tengah-tengah pertandingan. Pada laga
kedua babak Delapan Besar tersebut, Persebaya memang harus menang 2-0,
kalau masih ingin lolos ke babak selanjutnya. Pada laga pertama di
Malang, 1 September lalu, mereka kalah 0-1.
Para suporter yang
mencapai 23.000 orang (versi panitia pelaksana pertandingan) itu tak
puas melihat berlangsungnya pertandingan. Hingga mendekati akhir
pertandingan, Bejo Sugiantoro dkk tak mampu menjebol gawang Arema.
Puncaknya
terjadi pada menit ke-86 itu. Kiper Arema, Ahmad Kurniawan, terjatuh
kena lemparan batu penonton. Pertandingan sempat dihentikan lama.
Ketika dia berdiri, tiba-tiba para penonton dari tribun timur
berbondong-bondong memasuki lapangan. Situasi makin tak terkendali saat
suporter dari tribun lain ikut memasuki lapangan.
Para pemain
pun berlari mengamankan diri dan kerusuhan berlanjut antara suporter
melawan ratusan aparat (sekitar 700 petugas). Para suporter meneruskan
dengan perusakan serta pembakaran. Puluhan titik kebakaran terlihat di
dalam stadion kebanggaan Surabaya tersebut.
Hanya, karena
konsentrasi pengamanan terpusat di dalam stadion, tak disangka, yang
terjadi di luar jauh lebih parah. Sekitar pukul 17.30, perusakan dan
pembakaran dimulai di luar stadion.
Ironisnya, sasaran pertama
adalah mobil aparat. Tepatnya sebuah mobil dinas Koarmatim (Komando
Armada RI Kawasan Timur). Ketika itu, mobil KKM (Kepala Kamar Mesin)
KRI Pulau Rupat tersebut dikendarai Pratu Wisnu Sri Wardhana.
"Saat
itu, Wisnu hendak pulang ke rumahnya di kawasan Pucang Sewu," jelas
Kadisprov Armatim Mayor Bambang S. Irianto ketika dikonfirmasi Jawa Pos
tadi malam.
Namun, saat melintas di depan Stadion Gelora 10
Nopember, mobilnya terjebak kemacetan. Wisnu tampak shock atas kejadian
itu. "Tiba-tiba saya mendengar suara praakkk… Waktu saya lihat, kaca
belakang mobil sudah pecah," ungkapnya.
Setelah memecah kaca
belakang, massa lantas menggoyang-goyang mobil dinas TNI-AL tersebut
untuk digulingkan. Melihat gelagat yang tidak baik, Wisnu langsung
melompat ke luar dan menyelamatkan diri. Selanjutnya, massa yang tak
terkendali itu pun langsung menggulingkan serta membakar mobil tersebut.
Keberingasan
massa juga tertuju ke mobil operasional antv yang kemarin menyiarkan
langsung pertandingan tersebut. Suzuki APV bernopol B 8743 KR milik
antv langsung dibakar hebat, begitu massa melemparkan rokok dan korek
api yang menyala ke dalam tangki bensinnya. Kaca depan Toyota Dyna
milik antv juga pecah.
Kerugian lebih berat dialami Telkom
Surabaya Timur yang digandeng antv sebagai mitra kerja siaran langsung
pertandingan. Tercatat, dua mobil pemancar milik Divisi Long Distance
Representative Office Telkom hancur lebur dirusak massa.
Kerusakan
Daihatsu Hi-line bernopol L 1225 JB milik Telkom tersebut mirip mobil
operasional antv yang letaknya memang berdekatan. "Disulut tangki
bensinnya," kata Agus Juliansyah, teknisi bagian satelit Telkom
Surabaya Timur.
Namun, yang paling diprihatinkan Telkom
Surabaya Timur adalah kerusakan yang menimpa Nissan Diesel L 7612 Y,
mobil operasional yang lain. Maklum, selain rusak berat, banyak
peralatan teknis yang dicuri. "Salah satunya adalah spectrum analyzer.
Nilainya Rp 300 juta. Siapa yang mau mengganti kerugiannya?" ungkap
Agus seraya menggaruk-garuk kepala.
Begitu dahsyatnya ulah
anarkis bonek, tercatat 14 polisi luka-luka dan puluhan topi polisi
yang diletakkan di truk Dalmas dicuri. Anggota yang mengalami cedera
paling parah adalah Bripda Kukuh. Kepalanya bocor dan kakinya terkena
hantaman batu-batu. Begitu parahnya, dia harus dilarikan ke RSUD dr
Soetomo untuk mendapatkan pertolongan. Sebanyak 25 panitia pelaksana
pertandingan juga dilaporkan mengalami luka-luka akibat ulah bonek.
Di sepanjang perjalanan pulang, para bonek itu juga merusak dan
melempari kendaraan. Aksi perusakan itu terjadi di Jl Dharmawangsa, Jl
Ngagel Jaya Selatan, dan Jl Biliton.
Lia (tidak mau disebut nama
lengkapnya), seorang ibu yang rumahnya tepat berada di depan stadion,
merupakan salah satu korban perusakan. "Apa yang dilakukan ini
kriminal. Lebih baik tidak ada pertandingan sepak bola di Surabaya,"
pintanya saat menghubungi kantor Jawa Pos tadi malam.
Dengan
perilaku bonek yang lebih dari mengkhawatirkan itu, apa yang akan
terjadi kemudian? Mungkin penggemar sepak bola di Surabaya harus siap
menghadapi yang terburuk. Sebab, bonek sebenarnya masih dalam masa
skorsing PSSI. Mereka tidak boleh mengikuti enam laga away Persebaya
akibat kerusuhan saat final Divisi I di Stadion Brawijaya, Kediri, 16
Agustus lalu.
Dari PSSI, ada ancaman sanksi, bonek tidak boleh
menyaksikan pertandingan home (di kandang sendiri) selama satu musim.
Komisi Disiplin PSSI akan mengagendakan kasus itu pada sidang Kamis, 7
September nanti.
Reaksi keras juga muncul dari pihak aparat. Ada
kemungkinan Persebaya bakal tidak bisa main di kandang sendiri karena
polisi tidak akan mengizinkan keramaiannya.
"Kami akan mengkaji
ulang izin penyelenggaraan pertandingan sepak bola di Surabaya. Kalau
begini caranya (selalu rusuh setiap ada pertandingan), lebih baik tidak
ada pertandingan sepak bola di Surabaya. Siapa yang bisa menjamin
keamanannya?" ujar seorang pejabat di Polwiltabes Surabaya.
Perwira
tersebut menambahkan, pihaknya juga akan merekomendasikan ke PSSI
supaya tidak ada pertandingan sepak bola di Surabaya. "Buat apa, kalau
yang ada hanya rusuh dan bakar-bakaran?" tegasnya.
Kapolwiltabes Surabaya Kombes Pol Anang Iskandar membenarkan itu.
"Memang benar kami akan mempertimbangkan secara seksama izin
penyelenggaraan sepak bola di Surabaya. Kalau memang dari segi keamanan
tidak kondusif, tentu kami akan melarangnya," ujarnya.
Sementara
ini, enam bonek telah diamankan dan tadi malam diperiksa intensif di
Polwiltabes Surabaya. Mereka adalah Suroyo, 24, warga Sidotopo;
Mulyadi, 18, arek Dupak Masigit; Riki Maulana, 16, beralamat di
Sukolilo; Ediyanto, 20, pemuda asal Buduran; Riyanto, 18, dari
Sepanjang; dan Irwan Kusanto, 15, bocah asal Bubutan.
"Mereka
akan diperiksa intensif dan dijerat dengan pasal 170 KUHP tentang
perusakan bersama-sama," ujar Anang Iskandar, yang kemarin datang ke
lokasi dengan ojek, gara-gara jalan begitu macet imbas dari kerusuhan.
(git/phd/ano)