25 oktober malam
cuaca kurang bersahabat, panas sekali. debu-debu beterbangan.kehangatannya tampak lebih hangat dari tahun-tahun sebelumnya. surabaya, tempat aku harus memulangkan diri untuk menyapu segala kerinduan akan kasih sayang dan semua kesalahan yang tertanam.surabaya, kota ini semakin menunjukkan eksistensinya sebagai calon kota padat laksana bombay. bangunan yang baru telah berdiri tegak menghadang langit kota, kemacetan lalu lintas yang semakin parah dan meradang. surabaya, aku kembali setelah hari raya ketiga tanggal 25 oktober. langit sore sudah lama pergi ketika kereta berhenti di jalur 6 dari bandung. setengah jam lewat dari tepat. para penjemput memburu jemputannya seiring langkah mereka yang semakin cepat menyusul gerbong kereta yang melintas cepat…disana telah menanti keluargaku. malam itu surabaya tetap hangat, seperti malam-malam yang aku lewatkan dulu. aku bertemu teman sekolah masa SMA, walau sekilas aku tahu dia temanku. tidak kusapa dia, kubiarkan saja. karena aku sangat capek untuk memulai pembicaraan. kelelahan selama di kereta buatkan jadi egois bicara. hanya kulihat dia , dia tampak buncit…bukan karena habis minum banyak tapi seorang janin ada di dalamnya aku yakin itu. dia sudah besar sekarang, dia sudah jadi ibu sekarang. tanda-tanda kedewasaan terlihat di parasnya yang cantik dan dewasa. berbeda dengan wajah yang kulihat 7 tahun yang lalu.
malam itu kututup dengan tahu campur dua mangkuk,kumakan dengan rakus.rindu akan surabaya, malam itu terbayar lunas. besok ,lusa, lusanya lagi…hari yang harus aku manfaatkan benar karena aku tidak lama.semua harus lunas sehingga pulang tanpa beban. 29 malam aku pulang.