“Allaaaahu Akbarr!!, Merdeka atau Mati Syahid..”.
Anda kenal Yahya Ayyash? Ya benar, Beliau adalah salah satu arsitek Bom
Syahid-nya negara Palestina tercinta. Betapa banyak yang mengenal jasa
beliau hingga saat ini. Ke-syahidannya beberapa tahun lalutak
memutuskan semangat perjuangan Palestina untuk mensucikan kembali tanah
suci ummat Islam itu.
Tokoh itu ternyata ada kemiripan hobby
dengan salah satu pejuang kemerdekaan kita. Ya, beliau Sutomo yang
dipanggil akrab dengan Bung Tomo. Pria kelahiran Surabaya ini memiliki
semangat juang yang luar biasa. Segala cara ditempuh untuk mendapatkan
posisi terbaik, Merdeka atau Mati Syahid.
Saat pemerintah
Indonesia dinilai lambat dalam melawan penjajah Belanda, Bung Tomo
mengambil keputusan bersama para rekan seperjuangan untuk mendirikan
Barisan Perjuangan Rakyat Indonesia (BPRI) pada tanggal 12 Oktober
1945. Organisasi itu diisi oleh pemuda dan orang yang bertekad dan
teguh untuk mempertahankan kemerdekaan negara kita. Sebagai orang yang
berlatar belakang kepanduan maka Bung Tomo menekankan diri kepada para
anggota BPRI untuk berlaku bersih dan dekat kepada Allah Yang Maha Esa.
Bung Tomo tak segan-segan untuk mengobarkan semangat rekan seperjuangan
dengan memekikkan takbir "Allaaaahu Akbarr!!" dan berteriak "Merdeka
atau Mati Syahid..".
Pada zaman itu, hanya Bung Tomo dan Bung
Karno-lah yang dikenal sebagai agitator dan orator yang paling
melantangkan kalimat Merdeka. Hal itu membuat beliau-beliaulah yang
paling dicari penjajah sehingga dicarilah orang pribumi yang ingin
menjadi mata-mata dengan gaji yang menggiurkan.
Bung Tomo sering
mengajak rekan seperjuangannya untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Bahkan ketika kekuasaan Allah datang atas pergerakan mereka, bertambah
banyaklah pemuda yang mengikuti organisasi tersebut. Salah satu
pertolongan Allah yang mereka dapatkan ialah ketika sedang bergerilya
bulan Oktober 1945. Pada waktu itu mereka telah terkepung dengan
pesawat-pesawat tempur Belanda. Dengan kekhawatiran yang tinggi rekan
seperjuangan Bung Tomo meminta untuk mundur dan mencari pepohonan yang
rindang, sedangkan pepohonan itu hanya ada di posisi yang jauh. Maka
Bung Tomo berusaha menenangkan mereka "Tenanglah, pertolongan Allah
akan datang, kita telah merelakan diri kita untuk negara dan Agama ini.
Merdeka atau Mati Syahid. Allaahu Akbar!!". Luluh-lah perasaan takut
rekan-rekan Bung Tomo karena keikhlasannya dalam memohon perlindungan
Allah. Sesaat setelah itu, gumpalan awan hitam menutupi rombongan Bung
Tomo dan rekan seperjuangan membuat pesawat tidak dapat melihat kondisi
bawah dan meninggalkan tempat tersebut tanpa memuntahkan bombardir
kepada pasukan Bung Tomo.
Peristiwa 10 November 1945, Bung Tomo
membuat lapisan perlawanan yang menggetarkan pasukan Belanda. Diatas
mimbar RRI beliau berkata dengan semangat "Mereka telah merobek-robek
harga diri kita Bangsa Indonesia, maka robeklah harga diri mereka
bersama-sama. Ingatlah bahwa Allah bersama kita. Allaaahu Akbarr!!
Merdeka atau Mati Syahid lebih baik dari pada dijajah seumur
hidup!…!". Peristiwa yang mendapat dukungan dari Ulama se-Surabaya
itu berhasil dijadikan sebagai Hari Pahlawan karena perlawanan pada
saat itu betul-betul penuh pengorbanan.
Seorang pejuang
berhasil merobek warna biru yang ada pada bendera Belanda yang
tergantung di benteng markas mereka. Pasukan lainnya menyerbu tentara
Belanda yang pada malam harinya bermabuk-mabukan dan tak berdaya ketika
diserang. "Perjuangan belum berakhir! masih banyak tugas kita setelah
ini" kata Bung Tomo seusai peristiwa tersebut. Tahun 1945 - 1949, Bung
Tomo kembali membuat alternatif gaya perjuangan untuk mempertahankan
kemerdekaan Indonesia dengan mendirikan pasukan berani mati bernama
Pasukan Bom Syahid. Pasukan Bom Syahid merupakan organisasi pasukan
khusus dan terdidik secara skill dan keimanan. Bung Tomo terkesima
ketika datang seorang pemuda lusuh dari Surabaya memohon kepada Beliau
agar dapat bergabung dalam pasukan tersebut. Setelah dididik, pemuda
(yang namanya tidak masuk dalam sejarah) itu menjadi Syahid pertama
dengan cara menabrakkan diri ke Tank Belanda dan hancur bersamanya.
Bung
Tomo yang selalu bergaul dengan Tani, Buruh dan Tukang Becak ini tetap
dinilai sebagai pejuang yang bersahaja. Setelah revolusi 1949 selesai,
beliau tidak menerima penghargaan yang diberikan dari negara. Beliau
yakin, surga Allah telah menanti..
16 Oktober 1981 pada usia
80-an, beliau menutup mata setelah wukuf di Arafah dan dimakamkan
dimakam Tanah Suci Makkah Mukarromah. Itulah sekelumit perjuangan
beliau yang luput dari sejarah Indonesia, karena buku-buku sejarah kita
tidak pernah menyebut bahwa Bung Tomo adalah arsitek Pasukan Bom Syahid
di Indonesia.
Disarikan dari acara "Mutiara Islam" Radio RAMA
93,5 FM Jogjakarta, Pukul 11.00-11.40 WIB dengan Announcer : Candy
Yuditha, S.Psi